Jawaban _Cerpen Fiksi_ *KAKAK BERADIK* ———————– Drrttt … drrttt … drrrtttt …. Ponselku…

Apakah kamu sedang mencari jawaban dan pembasahan dari soal_Cerpen Fiksi_ *KAKAK BERADIK* ———————– Drrttt … drrttt … drrrtttt …. Ponselku…, maka kamu berada di tempat yang tepat.
Disini ada beberapa jawaban mengenai pertanyaan tersebut, tidak ketinggalan juga pembahasannya. Silakan baca lebih lanjut.

Pertanyaan

_Cerpen Fiksi_
*KAKAK BERADIK*
———————–
Drrttt … drrttt … drrrtttt ….
Ponselku berdering. Gegas aku meraih benda pipih kesayanganku yang tak lagi bisa berdering sempurna tersebut di atas televisi.

Kak Nilam memanggil.
Kuusap layar yang telah buram sesaat, sebelum mengangkat panggilan dari kakak tertuaku.

_”Assalamu’alaimum, Kak,”_ sapaku terlebih dahulu.

_”Walaikumsallam, Lisa. Besok, aku sama Ferdi mau ke sana. Kangen sama rumah lama,”_ sahut Kak Nilam langsung memberi kabar yang membuat aku termangu.

Setelah kepergian ibu 3 tahun silam, ini kali pertama kakak dan adikku yang kehidupannya telah sukses di kota menyambangiku kembali.

Dulu memilih menetap di kampung demi menjaga ibu yang telah sepuh. Sampai akhirnya aku menikah dengan Mas Waris yang berasal dari satu kampung.

_”Lisa? Kamu masih di situ, kan?”_

_”Eh, i-iya Kak. Iya. Besok, aku akan masakin makanan yang pasti Kak Nilam dan Ferdi suka,”_ sahutku berusaha ceria.

_”Makasih ya, Lis!”_

Setelah bertukar salam, aku meletakkan ponsel kembali di atas televisi. Hatiku dilanda resah. Beras untuk makan kami berempat hanya tersisa untuk besok saja. Bila Kak Nilam dan Ferdi datang sekeluarga, itu artinya akan bertambah dua kali lipat.

Mas Waris hanya seorang pekerja serabutan. Sudah seminggu ia belum bekerja. Kadang ajakan kerja ada, tapi jarak tempuh jauh, sedangkan kendaraan yang kami miliki hanya sebuah sepeda tua. Bila sudah begini, untuk biaya hidup kami, aku tak segan menyusuri sungai kecil dan rawa-rawa.

Mengais rejeki dengan memetik kangkung dan genjer yang tumbuh di tepi sungai dan rawa untuk diikat, lalu kutawarkan pada warga kampung adalah yang lumrah bagiku. Tak banyak memang hasilnya, tapi cukup sekedar untuk membeli beras.

_”Mas, besok Kak Nilam dan Ferdi mau datang,”_ ucapku pada Mas Waris yang sedang membolak-balik tanah pekarangan yang sempit dengan cangkul untuk menanam cabai dan tomat.

Mas Waris menatapku sesaat, lalu meletakkan cangkul. Seolah mengerti kerisauanku, dia berkata, _”aku akan periksa ‘Bubu’ di sungai._

Aku mengangguk dan menatap punggung pejuang nafkahku itu hingga kejauhan. Untuk lauk, kami memang selalu mengandalkan hasil perangkap ikan bernama ‘bubu’ yang dipasang di sungai.

Pandanganku kini beralih pada dua ekor ayam jantan kesayangan Widan-anak bungsuku yang berusia 6 tahun. Bergegas aku ke kamarnya.

_”Nak, besok Indah sama Faris mau datang. Boleh enggak, ayamnya ibu tukar sama beras dulu? Nanti kalau ada uang, ibu beli ayam yang baru?”_ kuusap lembut kepala anakku sambil bertanya.

Wildan menatapku sebentar, lalu mengangguk. Mendengar sepupunya yang sebaya akan datang saja, dia sudah sangat senang.

_”Terima kasih, Nak,”_ kucium penuh haru pucuk kepala anakku.

Tanpa pikir panjang aku langsung menangkap dua ekor ayam jago tersebut, lalu membawa ke warung sembako terdekat.

Setelah tawar menawar sebentar, akhirnya aku berhasil membawa pulang beras sebanyak 5 kg, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, telur, gula, teh, dan kopi secukupnya. Tak lupa kubeli beberapa bungkus jajan untuk menyambut keponakanku besok.

Keesokan harinya, Kak Nilam dan Ferdi benar-benar datang dengan mengendarai mobil masing-masing. Aku tersenyum bahagia dengan pencapaian dua saudaraku tersebut. Istri Ferdi seorang wanita karir, dan suami Kak Nilam seorang pengusaha sukses.

Wajar jika dulu mereka berdua langsung menyerahkan begitu saja, rumah peninggalan orang tua kami beserta seluruh isinya padaku dan Mas Waris.

Walau terbersit rasa minder, namun aku tetap menyambut kedua saudaraku yang datang tepat di jam makan siang tersebut dengan senyum lebar. Aku langsung mengajak mereka bersantap dengan menu yang sangat sederhana.

Ikan gabus dan telur bumbu bali, tumis kangkung, kulupan jantung pisang, dan ikan puyu bakar dilengapi cacapan mangga muda rupanya menggugah selera kedua saudaraku. Beruntung, keponakan dan ipar-iparku dari kota juga menyukai makanan ala desa yang kusuguhkan.

_”Berasa makan masakan ibu,”_ gumam Ferdi setelah makan.

Aku dan Kak Nilam tersenyum. Dulu menu yang kusuguhkan memang akrab dengan mereka berdua saat kami masih tinggal bersama.

Usai makan siang, Kak Nilam dan Ferdi berjalan-jalan sambil mengenang masa kecil mereka dengan tetangga sekitar. Anak-anak kami pun bercengkrama hingga sore hari.

Malam hari, kami melanjutkan obrolan dengan bernostalgia mengenang saat-saat kedua orang tua kami masih lengkap. Sesekali Ferdi dan Kak Nilam bertanya tentang kegiatan Mas Waris.

***
Keesokan paginya, Kak Nilam dan Ferdi sudah siap-siap ke kembali ke kota. Malu-malu aku menyuguhkan sarapan nasi goreng putih seadanya dan telur dadar sebelum mereka pulang.

T

*Selesai* tulislah 10 amanat/nasihat yang ada di dalam cerpen tersebut​

Jawaban #1 untuk Pertanyaan: _Cerpen Fiksi_
*KAKAK BERADIK*
———————–
Drrttt … drrttt … drrrtttt ….
Ponselku berdering. Gegas aku meraih benda pipih kesayanganku yang tak lagi bisa berdering sempurna tersebut di atas televisi.

Kak Nilam memanggil.
Kuusap layar yang telah buram sesaat, sebelum mengangkat panggilan dari kakak tertuaku.

_”Assalamu’alaimum, Kak,”_ sapaku terlebih dahulu.

_”Walaikumsallam, Lisa. Besok, aku sama Ferdi mau ke sana. Kangen sama rumah lama,”_ sahut Kak Nilam langsung memberi kabar yang membuat aku termangu.

Setelah kepergian ibu 3 tahun silam, ini kali pertama kakak dan adikku yang kehidupannya telah sukses di kota menyambangiku kembali.

Dulu memilih menetap di kampung demi menjaga ibu yang telah sepuh. Sampai akhirnya aku menikah dengan Mas Waris yang berasal dari satu kampung.

_”Lisa? Kamu masih di situ, kan?”_

_”Eh, i-iya Kak. Iya. Besok, aku akan masakin makanan yang pasti Kak Nilam dan Ferdi suka,”_ sahutku berusaha ceria.

_”Makasih ya, Lis!”_

Setelah bertukar salam, aku meletakkan ponsel kembali di atas televisi. Hatiku dilanda resah. Beras untuk makan kami berempat hanya tersisa untuk besok saja. Bila Kak Nilam dan Ferdi datang sekeluarga, itu artinya akan bertambah dua kali lipat.

Mas Waris hanya seorang pekerja serabutan. Sudah seminggu ia belum bekerja. Kadang ajakan kerja ada, tapi jarak tempuh jauh, sedangkan kendaraan yang kami miliki hanya sebuah sepeda tua. Bila sudah begini, untuk biaya hidup kami, aku tak segan menyusuri sungai kecil dan rawa-rawa.

Mengais rejeki dengan memetik kangkung dan genjer yang tumbuh di tepi sungai dan rawa untuk diikat, lalu kutawarkan pada warga kampung adalah yang lumrah bagiku. Tak banyak memang hasilnya, tapi cukup sekedar untuk membeli beras.

_”Mas, besok Kak Nilam dan Ferdi mau datang,”_ ucapku pada Mas Waris yang sedang membolak-balik tanah pekarangan yang sempit dengan cangkul untuk menanam cabai dan tomat.

Mas Waris menatapku sesaat, lalu meletakkan cangkul. Seolah mengerti kerisauanku, dia berkata, _”aku akan periksa ‘Bubu’ di sungai._

Aku mengangguk dan menatap punggung pejuang nafkahku itu hingga kejauhan. Untuk lauk, kami memang selalu mengandalkan hasil perangkap ikan bernama ‘bubu’ yang dipasang di sungai.

Pandanganku kini beralih pada dua ekor ayam jantan kesayangan Widan-anak bungsuku yang berusia 6 tahun. Bergegas aku ke kamarnya.

_”Nak, besok Indah sama Faris mau datang. Boleh enggak, ayamnya ibu tukar sama beras dulu? Nanti kalau ada uang, ibu beli ayam yang baru?”_ kuusap lembut kepala anakku sambil bertanya.

Wildan menatapku sebentar, lalu mengangguk. Mendengar sepupunya yang sebaya akan datang saja, dia sudah sangat senang.

_”Terima kasih, Nak,”_ kucium penuh haru pucuk kepala anakku.

Tanpa pikir panjang aku langsung menangkap dua ekor ayam jago tersebut, lalu membawa ke warung sembako terdekat.

Setelah tawar menawar sebentar, akhirnya aku berhasil membawa pulang beras sebanyak 5 kg, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, telur, gula, teh, dan kopi secukupnya. Tak lupa kubeli beberapa bungkus jajan untuk menyambut keponakanku besok.

Keesokan harinya, Kak Nilam dan Ferdi benar-benar datang dengan mengendarai mobil masing-masing. Aku tersenyum bahagia dengan pencapaian dua saudaraku tersebut. Istri Ferdi seorang wanita karir, dan suami Kak Nilam seorang pengusaha sukses.

Wajar jika dulu mereka berdua langsung menyerahkan begitu saja, rumah peninggalan orang tua kami beserta seluruh isinya padaku dan Mas Waris.

Walau terbersit rasa minder, namun aku tetap menyambut kedua saudaraku yang datang tepat di jam makan siang tersebut dengan senyum lebar. Aku langsung mengajak mereka bersantap dengan menu yang sangat sederhana.

Ikan gabus dan telur bumbu bali, tumis kangkung, kulupan jantung pisang, dan ikan puyu bakar dilengapi cacapan mangga muda rupanya menggugah selera kedua saudaraku. Beruntung, keponakan dan ipar-iparku dari kota juga menyukai makanan ala desa yang kusuguhkan.

_”Berasa makan masakan ibu,”_ gumam Ferdi setelah makan.

Aku dan Kak Nilam tersenyum. Dulu menu yang kusuguhkan memang akrab dengan mereka berdua saat kami masih tinggal bersama.

Usai makan siang, Kak Nilam dan Ferdi berjalan-jalan sambil mengenang masa kecil mereka dengan tetangga sekitar. Anak-anak kami pun bercengkrama hingga sore hari.

Malam hari, kami melanjutkan obrolan dengan bernostalgia mengenang saat-saat kedua orang tua kami masih lengkap. Sesekali Ferdi dan Kak Nilam bertanya tentang kegiatan Mas Waris.

***
Keesokan paginya, Kak Nilam dan Ferdi sudah siap-siap ke kembali ke kota. Malu-malu aku menyuguhkan sarapan nasi goreng putih seadanya dan telur dadar sebelum mereka pulang.

T

*Selesai* tulislah 10 amanat/nasihat yang ada di dalam cerpen tersebut​

Jawaban:

bentar lagi mikir……,……

Sekian tanya-jawab mengenai _Cerpen Fiksi_ *KAKAK BERADIK* ———————– Drrttt … drrttt … drrrtttt …. Ponselku…, semoga dengan ini bisa membantu menyelesaikan masalah kamu. Lihat pembahasan lain dari pertanyaan terkait pada bagian edukasi Beritapusat.com.